Manusia Pagi

on Kamis, 17 Mei 2012
Ceritanya beberapa hari ini pola hidup saya berubah. Biasanya selalu tidur larut malam dan bangun waktu matahari udah menyorot jendela kostan. Sekarang alhamdulillah sebelum matahari muncul saya sudah bangun dan mulai beraktifitas. Hal ini awalnya terjadi gara-gara ujian jam 7 pagi. Lalu berlanjut ketika saya harus mengejar dosen pembimbing KP yang agak sulit ditemui, jadi sebisa mungkin saya sudah di kampus pagi-pagi untuk mencegat beliau. Meskipun mau ketemunya penuh perjuangan, tapi berkat jadi manusia pagi ada beberapa hal nih yang saya sadari sering terlewat sama manusia siang dan malam seperti saya ini.

Di pagi hari, Bandung dingin banget. Waktu saya melihat keluar, wah, berkabut coy! Keren juga, berasa dimana gitu :') Selain kabut, jalan pagi itu enak banget. Saya sudah tahu sih soal ini, tapi selama ini males melakukan. Padahal di pagi hari banyak hal-hal yang bisa dinikmati, seperti udara yang masih segar nggak banyak polusi dan cahaya matahari yang bagus buat pertumbuhan *berasa bocah*

Ngomong-ngomong soal cahaya matahari, jadi hari ini ketika saya mangkal di Saraga untuk menunggu Bapak dosen, saya menemukan pemandangan seperti foto di bawah ini.


Foto ini diambil di Babakan Siliwangi. Buat saya, cahaya matahari yang masuk di antara celah-celah pepohonan itu cantik banget! Rasanya kayak di cerita-cerita negeri dongeng yang punya hutan berisi banyak peri hahaha.

Oh iya, karena saya mangkalnya di Saraga, agak malu juga sih melihat kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah tua tapi masih semangat olahraga, lari keliling saraga. Saya yang masih segar bugar ini kerjanya hibernasi di kostan aja :">

Nah buat kalian yang sibuk terus selama kuliah dan nggak pernah menikmati pagi, menjelang liburan ini sempetin deh bangun pagi sehariii aja dan cobain jalan keluar. Ternyata asik lho jadi manusia pagi!

Climate Change and Energy (2)

on Kamis, 03 Mei 2012
Hampir setahun yang lalu saya membuat tulisan tentang CCE. Waktu itu saya baru menjabat sebagai Kepala Program CCE di Badan Pengurus U-green 2011-2012. Dan hari ini sudah resmi turun jabatan, setelah sertijab berlangsung dua hari yang lalu :')

Di awal kepengurusan, semangat berkobar-kobar, bikin proker dan punya mimpi-mimpi yang pengen diwujudkan setahun kedepan. Meskipun awalnya takut, tapi alhamdulillah greeners 2009 dan 2010 welcome banget dan 2008 ke atas nggak bosan memberi masukan untuk CCE yang lebih baik. Setelah setahun, dan akhirnya mempresentasikan laporan pertanggungjawaban, saya mendapat pertanyaan dari sesepuh greeners: "Puas sama hasil jerih payah kamu?"

Sejujurnya, tidak. Entah kenapa, passion saya dalam bekerja di CCE ini menurun, seiring berjalannya waktu. Lebih banyak dilakukan karena kewajiban daripada karena ingin berbagi pengetahuan seperti di awal kepengurusan. Sedih sih, jadinya banyak banget kesempatan yang hilang karena saya nggak tanggap. Misalnya aja waktu Earth Hour dan BBM, itu bisa banget dijadikan diskusi bareng, tapi saya nggak melakukannya. Misalnya lagi untuk proker Fact of Campus, kalau dari awal saya niat banget hasilnya pasti akan sangat bermanfaat untuk menyadarkan massa kampus tentang energi dan permasalahan lingkungan di kampus ITB.

Dulu saya pengen menghilangkan pertanyaan orang-orang, "Program tuh ngapain sih?"
Saya pengen banget membuat greeners bilang, "Setelah setahun di U-green, saya dapet banyak pengetahuan baru lho."

Tapi ternyata setelah setahun ini, saya masih dengar kalimat, "Program dirasa masih kurang."

Kenapa ya? Padahal biasanya saya selalu menerapkan totalitas dalam bekerja, dan ketika parameter keberhasilan saya tidak tercapai tuh rasanya kesel banget. Maklum, saya perfeksionis sih.
Sekarang separuh dari proker saya tidak berjalan, dan yang berjalan pun ternyata dinilai belum memberi banyak manfaat. Setahun ini ternyata saya nggak total ya :(

Yah meskipun masih banyak kurangnya dan ngerasa nggak maksimal, tapi saya tetep bahagia kok jadi Kepala Program CCE setahun kemarin. Di CCE kemarin saya merasa sangat terbantu oleh Greeners 2010 dan 2011, juga 2009 dan 2008 yang masih mau bantu-bantu dan meramaikan acara CCE. Curcol dikit, sejatinya kelimuan CCE itu sendiri agak berbeda dengan keprofesian saya. Nggak seperti dua KaPro lainnya yang keprofesiannya mendukung keilmuannya, ketika membahas CCE, saya nggak bisa hanya mengandalkan keprofesian, harus belajar banyak lagi, browsing-browsing lagi. Dan ketika greeners-greeners lagi penasaran dan nanya sesuatu, saya kadang suka nggak bisa jawab atau nggak yakin sama jawaban saya. Ketika dalam situasi urgent seperti inilah saya bahagia banget ada greeners FTTM dan FITB macam Dony, Cungut, dan greeners-greeners-yang-lebih-paham-tentang-energi lainnya yang membantu saya. Inilah contoh kalau KaPro itu belum tentu yang paling tau semuanya :))

Berkat CCE, saya dapat banyak pembelajaran dan pengetahuan baru. Pembelajaran buat manajemen mood, buat nggak kerja sendiri, buat kenalan sama orang-orang baru, buat bikin games yang aneh-aneh tapi mendidik, ah nggak bisa disebut satu-satu. Terimakasih ya CCE, Greeners CCE dan U-green. Semoga CCE setahun kedepan lebih baik dari setahun kemarin. Semangat untuk KaPro CCE baru Wiku Larutama!

Thankyou CCE! 
(ini nggak sampai separuh dari greeners cce, tapi yg penting berhasil foto ya :'))


Menari

on Rabu, 11 April 2012

Di antara berbagai aktivitas saya di kampus, mungkin menari adalah aktivitas yang terlihat paling nggak masuk akal. Kenapa?

Track record menari saya berhenti di masa taman kanak-kanak. Lalu, sejak SMP, saya berhenti olahraga - nggak basket, nggak main bola, atau melakukan olahraga rutin lainnya selain di jam olahraga sekolah (yang kebanyakan dimanfaatkan dengan duduk dan jajan). Dampaknya adalah, badan saya kaku banget. Kalau Papa bilang, kakunya kayak pulpen -__-

Jadi, kesambet apa saya tiba-tiba menari sejak tingkat 2 kuliah?

Berawal dari kekaguman saya dan Alyssa saat melihat performance unit-unit budaya di ITB. Kemudian kekaguman itu berubah menjadi ketertarikan.
"Tingkat 2 kita harus masuk unit budaya ya Cha!", dulu saya sama Alyssa bertekad seperti itu.

Unit budaya di ITB itu ada banyak. Secara anak ITB berasal dari aneka propinsi di Indonesia, jadi mau budaya Aceh sampai Papua, ada semua. Awalnya, saya tertarik sama UKA (Unit Kebudayaan Aceh), karena basicnya saya anak Al Azhar dan penasaran sama saman (yang entah kenapa waktu jaman sekolah malah nggak menarik).

Tapi kemudian saya tertarik sama tarian yang lenggak-lenggok (baca: nggak duduk aja). Di UKA, menurut Anggi, ada juga sih tarian yang bukan saman, tapi dominannya kan tetep si saman. Saat itulah saya mempertimbangkan Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK). Apalagi waktu itu di PLE 2010 (kaderisasi PSTK) ada Astrid, Baskoro, dan Bina yang ketiganya anak FTSL 2009 yang jadi newbie di unit budaya ini. Selain itu pelatih narinya si Rani yang anak TL juga. Fix, akhirnya PSTK jadi pilihan unit budaya saya.

Bisa dibilang, di PSTK ini saya benar-benar 'buta'. Banyak nggak tahu bahasa jawa, banyak nggak tahu istilah-istilah nari dan karawitan, dsb. Buat sebagian orang, mungkin annoyed banget karena saya lamban belajar, kaku setengah mati pula. Apalagi buat mereka yang sudah ahli dan punya passion soal nari dan budaya. Untungnya, sejauh ini orang-orang di PSTK masih sabar bantuin saya yang super lamban :')

Masalah eksistensi, mungkin karena masalah prioritas hidup, saya nggak se-total itu di PSTK. Tapi di luar pembahasan itu, yang mau saya bahas adalah poin yang mungkin ditanyakan juga oleh beberapa orang: Kenapa dengan badan sekaku ini, dengan kemampuan di bawah standar ini, saya masih juga menari?

Buat saya, menari adalah cara untuk 'keluar dari zona nyaman', cara saya 'belajar hal-hal baru', cara saya 'melakukan sesuatu untuk (mencoba) memperbaiki kelemahan diri'. Saya jadi tahu kalau menari itu capek banget lho, tapi ketika saya berhasil menarikan satu tarian dengan sukses tanpa cela di setiap detailnya itu rasanya puaaaas banget. Perasaan puas dan seneng yang dirasakan hampir sama seperti waktu saya berhasil bikin majalah yang memang passion saya hehe.

Pelajaran dari menari ini adalah, coba lakukan hal-hal baru, bahkan sesuatu yang mungkin (terpikir) 'nggak gw banget'. Kalau memang sudah mencoba, karena benar-benar newbie, coba untuk memaksimalkan perbaikan-perbaikan untuk memperbaiki kekurangan lo di bidang itu. Dibanding temen-temen yang lain, saya perlu banget latian sendiri di kostan, perlu banget merhatiin setiap detail yang biasanya dihiraukan kalau lagi latihan bareng (karena yg lain udah bener, cuma saya yang salah). Intinya, jangan capek belajar, belajar, dan belajar.

Target saya dari belajar menari ini?
Nggak muluk-muluk sih. Saya tahu banyaaaak banget yang belum saya pelajari, jadi target saya yang simpel-simpel aja. Pengen lebih lentur lagi badannya, pengen juga ngasih performance yang bagus, khususnya di acara TW 41 ini, bareng sama anak-anak PSTK yang lain. Pengennya dengan nonton acara ini dan acara-acara PSTK lainnya, orang-orang tertarik sama kebudayaan Indonesia. Buat kalian yang menganggap bunyi gamelan itu serem, kalau udah sering denger malah nagih lho! ;)

Untuk kesempatan menari yang ketiga, terimakasih ya PSTK ITB :)
Buat pembaca, ayo coba hal-hal baru! You don't have to be good at it, yang penting lo berusaha sebaik mungkin untuk menampilkan yang terbaik.

Something Touchy In The Middle of Midterms

on Jumat, 16 Maret 2012
Bisa dibilang, semester 6 adalah momen dimana kegiatan akademik dari kampus terasa cukup 'lowong', apalagi kalau dibandingkan sama semester 5 yang hampir bikin gila. Padahal, semester ini saya ambil 22 sks = 9 mata kuliah. Tapi, ternyata saya belum memperhitungkan masa ujian tengah semester.

Di sistem akademik ITB, masa ujian tengah semester diplotkan untuk berlangsung selama satu minggu saja. Beberapa fakultas/program studi ada yang 'nurut' sama aturan ini, dimana dosen-dosennya nggak akan atau jarang banget mengadakan ujian di luar minggu UTS ini. Tapi ada juga beberapa program studi yang dosennya sesuka hati mengadakan ujian, mau dua minggu sebelum masa UTS, atau seminggu setelah, suka-suka dia. Kebetulan, FTSL, dan TL sebagai jurusan di dalamnya termasuk jurusan yang 'nurut' sama peraturan ITB, UTS berlangsung satu minggu saja.

Ujian sembilan mata kuliah dalam satu minggu itu bisa dikatakan hampir sama bikin gilanya dengan masa-masa jahiliyah semester 5. Please jangan dibandingkan dengan masa UTS anak SMA/SMP yang sehari juga tiga pelajaran. Pokoknya, this week feels so horrible dimana setiap hari tidurnya kurang dari tiga jam dan di kampus terasa seperti zombie berjalan.

Di tengah-tengah kepanikan dan kepusingan UTS inilah ada berita kalau di jam kosong antara uts mata kuliah A dan mata kuliah B, bakal ada KULIAH TAMU. Hal pertama yang saya dan teman-teman lakukan waktu tahu tentang kuliah tamu ini tentu saja, grumbling. Kaya kurang padat aja UTS, ditambah kuliah tamu pula. Tapi, keluhan itu langsung berubah waktu saya masuk dan mendengarkan Profesor Ralf Otterpohl memberikan kuliah.

Profesor Otterpohl berasal dari Technische Universitat Hamburg, Jerman. Beliau menjadi dosen tamu di mata kuliah Drainase & Sewerage, dimana beliau memberikan kuliah tentang "Eco-sanitation, Bio-waste Management, Energy Production & Agriculture". Sebelum memberikan kuliah, beliau meminta maaf karena kami harus hadir kuliah di masa-masa yang seharusnya tidak ada kuliah. Beliau membuka kuliahnya dengan beberapa pengantar yang entah kenapa membuat saya tersentuh.

Beliau memperkenalkan job-nya sebagai Insinyur Teknik Sipil yang berkutat dengan masalah drainase, sewerage, dan teknologi-teknologi pengolahan limbah. Di universitasnya memang tidak ada Teknik Lingkungan, tapi Teknik Lingkungan itu sendiri menjadi bagian dari Teknik Sipil. Beliau bilang, sebenarnya banyak pilihan keahlian yang lebih menarik-dari-sisi-keuangan dan lebih-keren-dari-sisi-kerjaan-yang-dilakukan di jurusan Teknik Sipil. But somehow he found his passion in this environmental engineering things, and well, it also makes money.

"Find some way to synchronize your passion and your profession. Do something because you love it, not because you want a big amount of money."

Beliau nggak bilang persis seperti itu sih, tapi itulah yang saya tangkap. Beliau mengatakannya dengan gaya, 'jangan sampai kalian kuliah cuma untuk uang, cuma untuk prestasi, isi kuliahnya ada di kepala tapi nggak ada di hati'.

Mungkin agak lebay, atau mungkin efek kebanyakan begadang, but at that moment I feel like crying. Mana ada dosen yang menyarankan hal seperti ini di masa kuliah. Pernah sih Pak AJ bilang, kalau nggak suka ngelab mending nggak usah ngurusin masalah mikroba, tapi efek kata-katanya kan beda banget.

Apa yang saya lihat dari pendidikan Indonesia adalah, semuanya harus dipelajarin, SEMUANYA banget, sampai kepala lo terasa penuh, baru deh lo tentuin apa yang pengen lo pilih dari SEMUANYA itu waktu lo mau kerja. Saya sih berusaha menerimanya karena apa-boleh-buat-saya-tinggal-di-negara-ini, tapi kalau saya pribadi sih paling nggak suka kalau dosen atau siapapun menuntut, "Lo kan calon insinyur TL, masa nggak ngerti ini sih?"

Bahkan di TL juga ada pilihan subjek, ada yang saya suka dan saya kurang suka, dimana tentu saja saya berusaha menyukainya. Ketika seseorang menghakimi usaha saya, it feels so annoying.

Maaf ya kalau di post ini saya banyak ngeluh, saya cuma pengen banget punya tenaga pengajar yang passionate seperti Profesor Otterpohl, dimana beliau tidak menuntut, dan membuat segala sesuatu yang kita pelajari jadi menarik, bahkan ketika lo harus mengolah tinja.

Cerita tentang ENVIRO 9

on Rabu, 01 Februari 2012


ENVIRO adalah majalah tahunan dari Departemen Media Komunikasi dan Informasi Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITB. Majalah ini bersifat gratis karena merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat HMTL melalui media cetak. Tahun 2011 kemarin, ENVIRO memasuki edisi ke 9, dan launching majalah ini baru saja berlangsung kemarin, Kamis 26 Januari 2012.

Majalah ENVIRO basically mengangkat berbagai tema yang terkait dengan lingkungan hidup secara umum. Beberapa tema yang pernah kami angkat antara lain tentang pencemaran udara, laut, teknologi, bencana, dan terakhir di edisi ke 9 ini kami membahas tentang eco-lifestyle.


Mengapa eco-lifestyle?
Akhir-akhir ini usaha ramah lingkungan dengan berbagai slogan dan label sudah menjamur dimana-mana. "Go Green", "Save Energy", dan berbagai slogan kampanye lainnya banyak terpampang di papan-papan reklame, tas-tas belanja, bahkan mobil-mobil travel. Memangnya usaha ramah lingkungan yang go green itu seperti apa sih?

Sebagian dari kalian mungkin tahu salah satu usaha go green yang paling terkenal, yaitu mengurangi penggunaan kantong plastik. Mungkin ada juga yang denger-denger kalau kita harus hemat energi. Tapi sebenernya, kenapa ya kita harus mengurangi penggunaan kantong plastik? Kenapa harus mematikan lampu kalau nggak dipakai? Kan plastik itu sesuatu yang normal untuk digunakan dan kita masih mampu kok bayar rekening listrik.

Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan 'kenapa harus aware dengan masalah lingkungan dimulai dari kehidupan sehari-hari' ini lah alasan kami mengangkat tema eco-lifestyle di edisi ke 9. Selain menjawab pertanyaan 'kenapa', kami juga menyediakan artikel-artikel yang menjawab pertanyaan 'bagaimana', misalnya:

Hemat air tuh harusnya gimana sih, apa dengan mandi sehari sekali?
Kalau hemat energi, kita harus gelap-gelapan gitu ya di rumah?
Terus kalau kita nggak boleh pakai plastik, bawa belanjaan pakai apa dong?
dan masih banyak lagi isu seputar gaya hidup ramah lingkungan yang bisa kalian temukan di majalah ini.

Siapa yang menulis artikel di ENVIRO 9?
Artikel dan rubrik di ENVIRO diisi oleh kontributor. Kontributor untuk edisi ke 9 ini ada 12 mahasiswa Teknik Lingkungan, 2 mahasiswa Planologi, 2 mahasiswa Teknik Geologi, 1 mahasiswa Teknik Sipil, 1 mahasiswa Farmasi, dan 1 alumni Kriya.


Selain mahasiswa dan alumni ITB, kami juga berkesempatan untuk memuat tulisan 5 orang kontributor internasional yang berpartisipasi dalam acara TUNZA di Bandung pada Oktober lalu.

Dimana bisa menemukan ENVIRO?
Karena gratis, tentunya kalian nggak bisa menemukan ENVIRO 9 di toko buku setempat. Tapi kami punya daftar pick-up points di Bandung yang bisa kalian kunjungi kalau tertarik pengen baca ENVIRO. Berikut tempat-tempat dimana ENVIRO 9 didistribusikan:


ITB: HMJ, Unit, Perpustakaan, Koperasi

Universitas di Bandung: UNPAR , UNIKOM, UNISBA, UNPAD, UNIVERSITAS MARANATHA, ITENAS, ITHB

SMA di Bandung: SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 20, SMA St. Aloysius, SMA Santa Angela, SMA Darul Hikam

SMP di Bandung: SMPN 2, SMPN 8, SMPN 5, SMPN 15, SMP Darul Hikam


Penasaraaaan? Cek juga e-magznya di: